Alaku
Alaku
Alaku

Seperempat Abad Kota Lubuk Linggau

Oleh: Pranata Meksiko, S.Pd (Warga Pinggiran Kota Sebiduk Semare)

25 tahun bukanlah perjalanan yang singkat, sebab dalam rentang seperempat abad, sebuah kota semestinya telah memiliki cukup waktu untuk tumbuh, membangun identitas, memperkuat ekonominya dan membuktikan sejauh mana pembangunan benar-benar menghadirkan perubahan bagi kehidupan masyarakat.

Bagi Kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, di usia ke – 25 pada 2026 ini, jangan hanya sekadar momentum untuk menggelar perayaan, namun juga menjadi kesempatan untuk menengok perjalanan masa lalu, membaca capaian hari ini, sekaligus menguji kesiapan kota menghadapi tantangan masa depan.

Dalam sebuah tradisi peringatan, usia 25 tahun dikenal sebagai Silver Jubilee atau Yubileum Perak, tapi ini dalam tradisi Yahudi. Cek google saja lengkapnya. Tetapi positifnya, mereka memaknai perayaan ke – 25 tahun itu sebagai ‘Masa Perak’. Artinya, cukup menggembirakan.

Seperempat abad juga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan refleksi, terkait apa yang sudah dicapai, apa yang belum selesai dan ke mana arah pembangunan berikutnya.

Kota Lubuk Linggau patut merayakan kemajuan yang telah dicapai. Namun, perayaan akan lebih bermakna apabila disertai keberanian untuk melihat kenyataan secara jujur. Sebab, ukuran keberhasilan sebuah kota bukan hanya apa yang terlihat dari luar, melainkan juga perubahan yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu cara paling masuk akal untuk menilai perjalanan pembangunan adalah menggunakan data, bukan sekadar kesan atau klaim.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Lubuk Linggau telah menerbitkan publikasi Potret Capaian Pembangunan Kota Lubuk Linggau Tahun 2025 pada 4 Mei 2026. Publikasi tersebut, menghimpun informasi sosial, kependudukan, ekonomi, pariwisata dan pertanian sebagai bahan evaluasi pembangunan. Sejumlah indikator telah memberikan gambaran mengenai perkembangan kota ini.

Pertama, dari sisi pembangunan manusia, IPM Kota Lubuk Linggau pada 2025 mencapai 79,94, meningkat 0,96 poin dibandingkan tahun sebelumnya. BPS juga mencatat harapan hidup bayi yang lahir pada 2025 mencapai 75,46 tahun. Sementara itu, rata-rata lama sekolah penduduk berusia 25 tahun ke atas meningkat menjadi 10,15 tahun, dari 9,94 tahun pada 2024.

Angka tersebut, merupakan perkembangan yang patut diapresiasi. Namun, pekerjaan pembangunan manusia tidak selesai hanya karena nilai IPM meningkat, karena Pemerintah tetap perlu memastikan bahwa kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan dan kesempatan meningkatkan taraf hidup, harus dapat diakses secara adil oleh masyarakat.

Kedua, perekonomian Kota Lubuk Linggau tumbuh 4,94 persen pada 2025, meningkat dari 4,62 persen pada 2024. Angka ini, menunjukkan adanya pertumbuhan aktivitas ekonomi.

Pertumbuhan tersebut, penting bagi kota yang memiliki peran sebagai pusat perdagangan dan jasa di kawasan sekitarnya. Akan tetapi, angka pertumbuhan ekonomi perlu dibaca bersama indikator lain, seperti perkembangan pendapatan rumah tangga, produktivitas usaha mikro, kesempatan kerja, serta daya beli masyarakat. Sebab, pertumbuhan ekonomi yang tercatat dalam statistik belum otomatis berarti seluruh pedagang kecil mengalami peningkatan omzet atau setiap keluarga merasakan perbaikan kondisi ekonomi.

Ketiga, persoalan kemiskinan tetap membutuhkan perhatian. Sebab, berdasarkan data BPS untuk Maret 2025, persentase penduduk miskin di Kota Lubuk Linggau sebesar 10,49 persen, turun 0,65 poin persentase, jika dibandingkan Maret 2024. Jumlah penduduk miskin tercatat sekitar 26.350 orang.

Penurunan ini, merupakan perkembangan positif, tetapi besarnya jumlah penduduk yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, tentu menunjukkan bahwa pekerjaan belum selesai. Program pengentasan kemiskinan, tentu harus diarahkan bukan hanya untuk menjaga keberlangsungan bantuan sosial, melainkan juga memperkuat kemampuan keluarga untuk mandiri melalui pekerjaan, usaha produktif, pendidikan dan akses layanan dasar.

Keempat, dari sisi ketenagakerjaan, jumlah penduduk yang bekerja pada Agustus 2025 tercatat sebanyak 124.699 orang, bertambah 3.153 orang, jika dibandingkan Agustus 2024. Pada periode yang sama, tingkat pengangguran terbuka tercatat sebesar 5,01 persen.

Data ini, mengingatkan kita bahwa penciptaan lapangan kerja, masih harus tetap menjadi prioritas. Pertambahan jumlah orang bekerja merupakan perkembangan yang penting, tetapi pemerintah juga perlu memperhatikan kualitas pekerjaan, kepastian penghasilan, perlindungan pekerja dan kesesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan pasar.

Data-data tersebut, memberikan fondasi untuk mengapresiasi perjalanan pembangunan Kota Lubuk Linggau. Pada saat yang sama, data itu mengingatkan bahwa capaian dan tantangan dapat hadir bersamaan.

Kota Lubuk Linggau memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat aktivitas perdagangan dan jasa di wilayah barat Sumatera Selatan. Posisi ini, merupakan modal pembangunan yang perlu terus diperkuat.

Aktivitas pasar, pertokoan, usaha kuliner, jasa transportasi, penginapan dan berbagai usaha mikro menjadi bagian dari denyut ekonomi kota. Di balik aktivitas tersebut, terdapat masyarakat yang menggantungkan hidup pada kelancaran perdagangan dan perputaran uang.

Karena itu, arah pembangunan ekonomi perlu memberi perhatian yang nyata kepada pelaku usaha kecil. Apa saja? Contohnya kemudahan perizinan, peningkatan kapasitas usaha, akses pemasaran digital, pembenahan fasilitas pasar dan kepastian ruang usaha yang bisa menjadi bagian dari kebijakan yang dapat membantu ekonomi rakyat berkembang.

Pembangunan juga perlu mendorong diversifikasi ekonomi, sebab kapasitas sebuah kota tidak cukup hanya mengandalkan aktivitas perdagangan yang sudah berjalan. Sebab, potensi wisata, ekonomi kreatif, kuliner lokal, jasa pendidikan, serta usaha berbasis teknologi juga mesti dapat dikembangkan, guna membuka peluang baru.

Dalam hal ini, gagasan menjadikan Kota Lubuk Linggau sebagai kota transit sekaligus tujuan wisata dan pusat UMKM kreatif, masih sangat perlu diterjemahkan ke dalam program yang terukur. Branding kota akan lebih kuat apabila didukung fasilitas yang memadai, kebersihan lingkungan, akses transportasi, promosi yang konsisten dan pengalaman pengunjung yang baik.

Wisatawan yang singgah harus memiliki alasan untuk tinggal lebih lama. Pelaku UMKM harus memiliki kesempatan untuk menjual lebih banyak produk. Termasuk, masyarakat harus mendapatkan manfaat ekonomi dari berkembangnya pariwisata.

Intinya, sesuai tagline Linggau Juara, yakni Maju Kotanya, Sejahtera Masyarakatnya.

Seiring bertambahnya usia, kebutuhan sebuah kota juga berkembang. Pertumbuhan permukiman, kendaraan, kegiatan perdagangan dan mobilitas masyarakat, tentu menuntut infrastruktur yang tidak hanya tersedia, tetapi juga berfungsi dengan baik.

Dalam beberapa pekan ini, sejumlah pertanyaan muncul di publik, entah itu lewat aktivis atau mahasiswa dan bahkan lewat cuitan warga Kota Lubuk Linggau di medsos, terkait Apakah jalan yang tengah dibangun mempermudah mobilitas warga? Apakah fasilitas publik mudah diakses masyarakat? Termasuk, Apakah pembangunan benar-benar menyelesaikan persoalan yang selama ini dikeluhkan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini, sebenarnya bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan. Justru sebaliknya, itulah cara masyarakat memastikan, bahwa pembangunan dilaksanakan harus sesuai kebutuhan dan memberikan manfaat sebesar-besarnya. Sebab pada usia ke – 25, Kota Lubuk Linggau membutuhkan pembangunan yang bukan hanya terlihat maju, melainkan juga terasa manfaatnya.

Momentum seperempat abad ini juga, semestinya menjadi ruang untuk menilai bagaimana para kepala-kepala OPD dan jajaran, agar mampu menerjemahkan visi misi, agar menjadi kebijakan dan hasil nyata.

Apresiasi dan kritik tidak harus dipertentangkan. Apresiasi diberikan atas capaian yang dapat dibuktikan, sedangkan kritik disampaikan untuk memperbaiki hal-hal yang masih perlu dibenahi. Keduanya merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang sehat.

Karena itu, setiap program yang membawa nama besar atau slogan pembangunan, perlu disertai indikator keberhasilan yang jelas. Target harus dapat diukur, pelaksanaan harus dapat diawasi dan hasilnya harus dapat dirasakan oleh masyarakat.

25 tahun Kota Lubuk Linggau ini, harus juga memberikan pengalaman dan fondasi bagi Kota Lubuk Linggau, guna melangkah lebih jauh. Sebab, tahun-tahun berikutnya, dipastikan akan menghadirkan tantangan yang tidak sederhana.

Sebab bukan tidak mungkin, akan ada persaingan antar wilayah dalam menarik investasi, perubahan teknologi, kebutuhan lapangan kerja, tekanan lingkungan dan tuntutan pelayanan publik yang semakin baik. Semuanya itu membutuhkan perencanaan yang matang.

Kota Lubuk Linggau, masih sangat perlu memperkuat kolaborasi antar pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, komunitas pemuda, media dan warga tentunya. Pembangunan tidak akan berjalan optimal jika hanya dipahami sebagai pekerjaan pemerintah semata.

Anak muda mesti diberi ruang untuk berinovasi, lalu UMKM harus memperoleh kesempatan berkembang. Komunitas masyarakat juga perlu dilibatkan dalam penyelesaian persoalan lingkungan dan sosial. Termasuk, yang juga tak kalah penting, yakni Media harus tetap memiliki ruang untuk menyampaikan informasi, kritik, serta aspirasi masyarakat secara bertanggung jawab.

Cita-cita menjadi kota yang maju dan sejahtera, tentu tidak cukup disampaikan dalam slogan. Cita-cita itu harus hadir dalam kesempatan kerja, kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, infrastruktur yang berfungsi, lingkungan yang terjaga dan kehidupan masyarakat yang semakin sejahtera.

Seperempat abad Kota Lubuk Linggau merupakan perjalanan yang layak diapresiasi tinggi, sebab berbagai capaian pembangunan manusia dan ekonomi telah memberikan cukup alasan untuk mengapresiasi kerja pemerintah, serta partisipasi masyarakat yang ikut membangun kota ini.

Dirgahayu tanah kelahiranku, Kota Lubuk Linggau ke – 25 Tahun. Maju Kotanya. Sejahtera Masyarakatnya.

Salam hangat dari saya, warga pinggiran kota. 😎✊

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *