Rejang lebong – Simpang Nangka Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram kembali memicu antrean panjang di pangkalan gas milik S kawasan Simpang Nangka. Sejak pukul 04.00 WIB dini hari, warga sudah memadati lokasi demi mendapatkan tabung gas melon bersubsidi yang kian sulit diperoleh.
Pantauan di lokasi menunjukkan antrean mengular, didominasi ibu rumah tangga dan pedagang kecil. Sebagian warga mengaku datang sebelum subuh dengan harapan bisa kebagian gas, namun rasa lelah itu justru berujung kekecewaan.
Pasalnya, di tengah antrean panjang, warga mendapati dugaan penjualan gas elpiji 3 kg di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Papan HET yang terpampang di depan pangkalan mencantumkan harga Rp20.000 per tabung. Namun dalam praktiknya, warga mengaku tetap diminta membayar Rp23.000 per tabung.
“Kami antre dari jam empat pagi. Capek, tapi tetap disuruh bayar Rp23 ribu. Padahal di papan tertulis Rp20 ribu,” ujar salah seorang warga dengan nada kesal.
Perbedaan mencolok antara harga resmi dan harga jual tersebut memicu tanda tanya besar di kalangan masyarakat. Warga mempertanyakan fungsi papan HET yang terpasang jika tidak sejalan dengan praktik penjualan di lapangan.
Situasi ini dinilai semakin memberatkan warga, terlebih di tengah kelangkaan gas elpiji 3 kg yang terjadi belakangan. Alih-alih menjadi penyangga kebutuhan masyarakat kecil, pangkalan justru diduga menambah beban ekonomi rakyat.
Ketika dikonfirmasi dengan pak S Rabu,11/2/2026 mengatakan menjual gas elpiji 3kg di atas Het karena mengikuti kawan-kawan pangkalan yang menjual seharga Rp 230000 padahal harga Het gas elpiji ditetapkan pemerintah Rp 200000
Fds.















