Oleh: Pranata Meksiko
(Kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah)
Sebagai kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Muktamar XXIV IPM di Makassar bagi saya bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Tentu ada agenda yang saya harapkan lebih besar, yakni sebagai momen titik balik ideologis bagi pelajar Muhammadiyah, guna menegaskan kembali siapa kita, ke mana kita melangkah dan untuk apa kita berjuang di tengah kompleksitas zaman.
Sebagai kader IPM, saya memandang muktamar ini sebagai ruang muhasabah kolektif. Dunia pelajar hari ini tidak lagi sederhana, sebab kini kita hidup di tengah krisis literasi, disrupsi digital, degradasi etika, serta tantangan ideologis yang begitu masif.
Dalam situasi seperti ini, IPM tidak cukup hanya menjadi organisasi struktural, tetapi harus tampil sebagai gerakan intelektual, moral dan sosial.
Makassar sebagai tuan rumah, tentu bukan tanpa makna. Kota ini memiliki sejarah panjang pergerakan, keberanian dan tradisi intelektual. Muktamar di Makassar diharapkan dapat melahirkan semangat baru, yakni IPM yang berani berpikir, berani berbeda dan berani memimpin perubahan.
Sudah saatnya IPM keluar dari jebakan rutinitas seremonial. Sebab negara kini membutuhkan IPM yang kritis terhadap ketimpangan pendidikan, progresif dalam penguasaan sains dan teknologi, tegas dalam isu moral, keadilan dan kemanusiaan. Dan tentunya, mandiri dalam membangun tradisi literasi dan riset pelajar.
Muktamar ini juga harus melahirkan kepemimpinan yang bukan sekadar populer, tetapi visioner, sebab bagi saya yang hanya kader IPM di daerah, tepatnya di Kota Lubuk Linggau, Sumsel. Pemimpin IPM hari ini dituntut bukan hanya piawai berbicara, melainkan mampu membangun sistem, kaderisasi yang sehat dan ekosistem gerakan yang berkelanjutan.
Sebagai kader, saya berharap Muktamar XXIV tidak berhenti pada slogan “arah baru”, tetapi benar-benar melahirkan paradigma baru, yakni gerakan pelajar Muhammadiyah yang berilmu, berakhlak, dan berdampak.
IPM harus kembali pada ruh awalnya, yakni pelajar sebagai agen pencerahan (agent of enlightenment). Bukan pelajar yang pasif, bukan pula pelajar yang larut dalam pragmatisme organisasi, tetapi pelajar yang sadar posisi sejarahnya, yakni sebagai calon pemimpin umat dan bangsa.
Muktamar ini adalah momentum. Jika kita gagal memaknainya, maka ia hanya akan menjadi agenda dua tahunan. Namun jika kita berhasil menafsirkan dan menindaklanjutinya, maka Muktamar XXIV IPM di Makassar akan tercatat sebagai tonggak kebangkitan baru gerakan pelajar Islam berkemajuan.
Note : Foto-foto yang saya tampilkan, yakni ketika saya berbicara pada forum IPM di Sumsel saat Pelatihan Kepemimpinan Siswa pada tahun 2007 lalu. Fotonyo blur, karena hanya itu yang masih saya dapat, sebab dulu ketika saya masih ber-IPM belum memiliki handphone, jadi saya tidak memiliki dokumentasi pribadi. Sangat berbeda bukan, jika dibandingkan dengan IPM sekarang. 😁













