Alaku
Alaku

Mengenang 75 Pahlawan Tak Dikenal, Terbaring Abadi di TMP Patria Bukit Sulap

Oplus_131072

Setelah proklamasi kemerdekaan, perang berkecamuk antara serdadu tentara Jepang melawan rakyat Lubuk Linggau, Musi Rawas dan Muratara.

Penulis : Surya Adewijaya
Editor : Muhammad Minor

Saat perang 30 Desember 1945, Jepang menggunakan senjata modern, namun rakyat hanya mengandalkan senjata seadanya. Karena kekuatan tidak seimbang, banyak pejuang berguguran, didominasi orang tidak dikenal identitasnya, sehingga mereka disebut Pahlawan Tak Dikenal.

Dilansir dari sripoku.com, bahwa para pejuang ini berasal dari Musi Ulu yang akan menyerbu dari arah Musi dan pejuang dari Rawas menyerbu dari seberang utara Sungai Kelingi. Sesuai dengan arah daerah mereka tinggal.

Penyerbuan dijadwalkan setelah bedug subuh berkumandang, ditandai dengan kode yang sudah disepakati. Tepat pada waktu yang ditentukan, terdengarlah suara bedug subuh.

Pejuang dari Rawas pun siaga dan menunggu munculnya tanda-tanda penyerangan dari seberang. Namun, hingga muncul mentari di ufuk timur, tanda-tanda itu belum juga terdengar.

Hal ini membuat pejuang dari Rawas yang sudah siaga di sisi utara Sungai Kelingi menjadi kebingungan, dikarenakan pejuang dari Musi Ulu belum juga memberikan tanda kode penyerangan. Hari sebentar lagi akan bergegas menjadi siang. Pejuang dari seberang sungai (Rawas) menembak menggunakan senjata kecepek.

Setelah suara tembakan terdengar, serdadu jepang langsung siaga dan menembaki pejuang yang berusaha menyeberangi Sungai Kelingi, yang hendak menuju gudang senjata.

Karena persenjataan Jepang kala itu lebih canggih dari senjata para pejuang, maka pertempuran menjadi tidak seimbang. Pasukan Jepang menyerang para pejuang yang akan menyeberang sungai Kelingi dengan tembakan.

Para pejuang berguguran, mayat bergelimpangan. Sungai Kelingi tampak merah, tercampur darah pejuang yang tertembak. Sejarah mencatat, paling sedikit 63 orang gugur dalam peristiwa ini. Diantara mereka berasal dari Suku Anak Dalam (SAD) atau lebih dikenal suku Kubu.

Pejuang yang gugur dalam misi merebut senjata Jepang ini kemudian disebut dengan “pahlawan tak dikenal”.

Sementara itu, dari pihak Jepang juga berjatuhan korban jiwa. Ini terjadi karena antara para pejuang, ada beberapa orang yang kebal peluru dan berhasil menyeberang menembus pertahanan serdadu Jepang.

Peluru tembakan serdadu Jepang tak mampu menembus kulit mereka dan berhasil membunuh beberapa orang tentara Jepang. Pejuang ini menggunakan senjata tradisional, seperti parang, keris dan tombak.

Diketahui, senjata para pejuang yang berhasil membunuh serdadu Jepang, saat ini tersimpan di museum Subkoss Garuda Lubuk Linggau, berupa keris dan ada juga tombak (kujur) suku Kubu, yang oleh anak keturunannya diserahkan ke museum.

Disisi lain, dituturkan oleh Erito, setiap tahun peringatan hari kemerdekaan selalu dilakukan renungan suci dalam rangka Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT-RI). Mengenang dan menauladani gigihnya pejuang yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan.

Dalam perayaan HUT-RI ke 80, Dinas Sosial (Dinsos) mengambil peran penting, karena Taman Makam Pahlawan (TMP) Patria Bukit Sulap ini berada dibawah naungan Dinsos Lubuk Linggau.

Erito mengatakan jika mengurus Taman Makam Pahlawan ini seperti sudah menjadi rutinitas keluarganya sejak dahulu, mulai dari ayahnya, M Yunus sejak 1970.

Semenjak almarhum M Yunus melepaskan pengabdiannya didunia tahun 2018, amanah mengurus makam ini dilanjutkan olehnya. Setelah itu, tanggung jawab merawat diamanahkan kepada mertuanya, Jokomen hingga sekarang dirawat oleh Jaya Kusuma yang merupakan adik iparnya.

“Terdapat 118 makam angkatan bersenjata, 1 pegawai sipil, 22 pejuang rakyat dan 75 pahlawan tidak dikenal,” tutur Erito yang secara kebetulan bekerja sebagai ASN Dinsos Lubuk Linggau, Minggu 17 Agustus 2025.

Awalnya TMP Patria Bukit Sulap ini berada di area rumah sakit Sobirin tepatnya tugu bambu runcing. Semenjak tahun 1972 dipindahkan di Kelurahan Tapak Lebar, Kecamatan Lubuklinggau Barat 2, berdampingan dengan Pengadilan Negeri dan Kejaksaan Negeri Lubuk Linggau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page